Berjalan jinjit adalah kondisi ketika anak melangkah dengan bertumpu pada bagian depan telapak kaki sehingga tumit tidak menyentuh lantai. Kebiasaan ini cukup sering ditemukan pada anak yang baru belajar berjalan karena koordinasi gerak dan keseimbangannya masih berkembang.
Pada sebagian anak, kebiasaan berjalan jinjit berkurang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia. Namun, orang tua tetap perlu mengamati pola berjalan anak, terutama jika kebiasaan tersebut terus berlangsung setelah usia dua tahun.
Berjalan jinjit yang menetap tidak selalu menunjukkan adanya penyakit tertentu. Meski begitu, pemeriksaan dapat membantu mengetahui apakah kondisi tersebut hanya merupakan kebiasaan atau berkaitan dengan masalah otot, tendon, saraf, maupun perkembangan motorik.
Anak yang baru mulai berjalan masih beradaptasi dengan kemampuan menjaga keseimbangan dan mengoordinasikan gerakan tubuh. Pada tahap ini, sesekali berjalan jinjit dapat terjadi.
Orang tua dapat mengamati apakah anak juga mampu berjalan dengan telapak kaki menapak penuh. Jika pola berjalan jinjit terus muncul atau tidak berkurang seiring perkembangan anak, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga kesehatan.
Sebagian anak terus berjalan jinjit meskipun tidak ditemukan penyebab medis yang jelas. Kondisi ini sering disebut idiopathic toe walking atau berjalan jinjit idiopatik.
Meski demikian, istilah tersebut sebaiknya digunakan setelah tenaga kesehatan mengevaluasi anak dan menyingkirkan kemungkinan penyebab lain. Orang tua tidak disarankan langsung menyimpulkan bahwa kebiasaan tersebut tidak berbahaya tanpa pemeriksaan, terutama jika berlangsung menetap.
Otot betis dan tendon Achilles berperan dalam pergerakan pergelangan kaki. Jika bagian tersebut kaku atau rentang gerak pergelangan kaki terbatas, anak mungkin kesulitan menapakkan tumit ke lantai saat berjalan.
Pada kondisi tertentu, kekakuan dapat semakin terasa seiring pertumbuhan. Dokter atau fisioterapis dapat menilai rentang gerak pergelangan kaki serta menentukan apakah anak memerlukan latihan atau penanganan khusus.
Berjalan jinjit yang menetap terkadang berkaitan dengan kondisi yang memengaruhi gerakan dan kontrol otot, misalnya cerebral palsy atau gangguan neurologis lainnya.
Sebagian anak dengan perbedaan perkembangan juga dapat menunjukkan pola berjalan jinjit. Namun, berjalan jinjit saja tidak cukup untuk menentukan adanya gangguan perkembangan tertentu.
Pemeriksaan menyeluruh diperlukan jika kebiasaan ini disertai keterlambatan perkembangan, gangguan keseimbangan, kekakuan otot, atau kesulitan melakukan aktivitas yang sesuai dengan usianya.
Orang tua sebaiknya memperhatikan beberapa kondisi berikut:
Anak tetap sering berjalan jinjit setelah usia dua tahun.
Anak sulit atau tidak mampu menapakkan tumit ke lantai.
Berjalan jinjit hanya terjadi pada satu kaki atau satu sisi tubuh.
Anak sering terjatuh, berjalan tidak seimbang, atau tampak kesulitan beraktivitas.
Kaki terlihat kaku, gerakan pergelangan kaki terbatas, atau anak mengeluhkan nyeri.
Anak sebelumnya berjalan dengan telapak kaki menapak normal, tetapi kemudian mulai berjalan jinjit.
Terdapat keterlambatan dalam perkembangan motorik atau kemampuan gerak lainnya.
Jika anak tiba-tiba mengalami perubahan cara berjalan disertai kelemahan, nyeri berat, atau tidak mampu berdiri maupun berjalan, segera cari pertolongan medis.
Perhatikan kapan anak mulai berjalan jinjit, seberapa sering kebiasaan tersebut muncul, dan apakah terjadi pada kedua kaki atau hanya satu sisi. Informasi ini dapat membantu dokter memahami kondisi anak saat pemeriksaan.
Orang tua juga dapat merekam video singkat ketika anak berjalan secara alami untuk ditunjukkan kepada tenaga kesehatan.
Aktivitas yang sesuai dengan usia, seperti berjalan di permukaan datar dengan pengawasan, dapat membantu anak melatih keseimbangan dan koordinasi. Pilih permainan yang aman dan tidak memaksa anak melakukan gerakan tertentu.
Hindari memaksa tumit anak menapak atau melakukan peregangan kuat tanpa arahan tenaga kesehatan, terutama jika anak tampak kesakitan atau mengalami kekakuan.
Sepatu khusus, penyangga kaki, atau alat koreksi lainnya tidak selalu diperlukan pada setiap anak yang berjalan jinjit. Penggunaannya perlu disesuaikan dengan hasil pemeriksaan dan rekomendasi tenaga kesehatan.
Jika terdapat keterbatasan gerak atau gangguan fungsi, dokter dapat menyarankan fisioterapi atau penanganan lain berdasarkan kebutuhan anak.
Dokter biasanya menanyakan riwayat perkembangan anak, kapan kebiasaan berjalan jinjit dimulai, serta apakah anak memiliki keluhan lain. Pemeriksaan dapat meliputi cara berjalan, keseimbangan, kekuatan otot, refleks, dan rentang gerak pergelangan kaki.
Pemeriksaan tambahan akan dipertimbangkan jika ditemukan tanda yang mengarah pada gangguan tertentu. Tidak semua anak memerlukan pemeriksaan pencitraan atau tes lainnya.
Apabila diperlukan, anak dapat dirujuk untuk menjalani fisioterapi guna mengevaluasi fungsi gerak dan menyusun program latihan yang sesuai. Penanganan sejak dini dapat membantu mengatasi keterbatasan gerak dan mendukung aktivitas sehari-hari anak.
Balita yang sesekali berjalan jinjit, terutama saat baru belajar berjalan, belum tentu mengalami gangguan kesehatan. Namun, kebiasaan yang menetap setelah usia dua tahun, kesulitan menapakkan tumit, berjalan jinjit hanya pada satu sisi, atau munculnya masalah keseimbangan perlu diperiksa.
Orang tua tidak perlu langsung panik, tetapi sebaiknya tidak mengabaikan perubahan pola berjalan anak. Dengan pemeriksaan yang tepat, penyebabnya dapat diketahui dan anak bisa mendapatkan penanganan sesuai kebutuhan tumbuh kembangnya.
Informasi & Reservasi
Klinik Kei Medika – Jambi
WA: 0811-7450-412
Instagram: @keimedika
Website: www.keimedika.com