Saat membeli obat di apotek, sebagian orang biasanya hanya fokus pada nama produk atau manfaat yang tertera pada kemasan. Padahal, ada beberapa informasi penting yang sebaiknya diperiksa terlebih dahulu.
Obat yang tepat bukan hanya obat yang sesuai dengan keluhan, tetapi juga harus memiliki kandungan, dosis, dan aturan penggunaan yang sesuai dengan kondisi orang yang mengonsumsinya.
Berikut tujuh hal yang sering terlewat saat membeli obat di apotek.
Jangan hanya mengingat nama merek obat. Periksa juga zat aktif yang terkandung di dalamnya.
Hal ini penting karena beberapa obat dengan merek berbeda dapat memiliki kandungan yang sama. Jika tidak teliti, seseorang bisa saja membeli dua produk berbeda yang sebenarnya mengandung zat aktif serupa.
Contohnya, beberapa obat flu memiliki kandungan parasetamol. Jika dikonsumsi bersamaan dengan obat lain yang juga mengandung parasetamol, jumlah total yang masuk ke tubuh dapat melebihi dosis yang dianjurkan.
Karena itu, biasakan membaca bagian komposisi atau kandungan pada kemasan sebelum membeli obat.
Obat dengan kandungan zat aktif yang sama belum tentu memiliki kekuatan dosis yang sama.
Sebagai contoh, parasetamol tersedia dalam berbagai kekuatan, seperti 500 mg untuk tablet dewasa dan sediaan lain dengan dosis berbeda untuk kebutuhan tertentu.
Memilih dosis yang tidak sesuai dapat menyebabkan pengobatan kurang tepat atau meningkatkan risiko efek samping. Dosis juga dapat dipengaruhi oleh usia, berat badan, kondisi kesehatan, dan jenis sediaan obat.
Jika belum memahami perbedaan dosis, mintalah bantuan apoteker sebelum menentukan pilihan.
Tanggal kedaluwarsa menunjukkan batas waktu penggunaan obat yang ditetapkan berdasarkan pengujian stabilitas dengan kondisi penyimpanan tertentu.
Sebelum membeli, periksa apakah tanggal kedaluwarsa masih berlaku. Selain itu, perhatikan kondisi kemasannya.
Hindari membeli obat dengan kondisi seperti:
Kemasan sobek, bocor, atau rusak.
Segel sudah terbuka atau tampak pernah dimanipulasi.
Tulisan informasi produk tidak terbaca.
Tablet atau kapsul tampak berubah bentuk, warna, atau kondisinya secara tidak wajar.
Kemasan yang masih terlihat baik juga tidak selalu menjamin kualitas obat jika penyimpanannya tidak sesuai. Karena itu, pastikan membeli obat dari apotek atau fasilitas resmi.
Setiap obat memiliki aturan penggunaan yang berbeda. Ada obat yang perlu diminum sebelum makan, sesudah makan, atau pada waktu tertentu.
Perbedaan ini dapat memengaruhi penyerapan obat, efektivitas, maupun risiko efek samping.
Selain waktu konsumsi, perhatikan juga informasi mengenai:
Frekuensi penggunaan dalam sehari.
Jumlah obat dalam satu kali pemakaian.
Lama penggunaan.
Petunjuk khusus, seperti harus dikocok sebelum digunakan.
Jangan mengubah aturan pakai hanya karena merasa keluhan sudah membaik atau belum menunjukkan perubahan.
Bagian peringatan pada kemasan sering kali terlewat karena dianggap hanya sebagai informasi tambahan. Padahal, bagian ini dapat berisi hal penting mengenai kondisi yang perlu diperhatikan sebelum menggunakan obat.
Misalnya, beberapa obat dapat menyebabkan kantuk sehingga perlu diwaspadai saat mengemudi. Ada juga obat yang memerlukan perhatian khusus pada orang dengan gangguan ginjal, gangguan hati, alergi tertentu, atau kondisi kehamilan.
Jika memiliki riwayat alergi obat atau penyakit tertentu, sampaikan informasi tersebut kepada apoteker sebelum membeli obat.
Obat yang dibeli mungkin berinteraksi dengan obat lain, vitamin, suplemen, maupun produk herbal yang sedang dikonsumsi.
Interaksi tersebut dapat memengaruhi cara kerja obat atau meningkatkan risiko efek samping.
Contohnya, penggunaan beberapa obat pereda nyeri dari golongan antiinflamasi nonsteroid secara bersamaan dapat meningkatkan risiko gangguan lambung dan ginjal.
Karena itu, jangan hanya menyebutkan obat yang diperoleh dari dokter. Informasikan juga obat bebas, suplemen, dan produk herbal yang sedang digunakan agar apoteker dapat membantu memeriksa kemungkinan interaksi.
Obat tersedia dalam berbagai bentuk, seperti tablet, kapsul, sirup, salep, krim, tetes mata, hingga obat semprot.
Setiap bentuk memiliki cara penggunaan yang berbeda. Tidak semua orang cocok menggunakan bentuk obat yang sama.
Misalnya, seseorang yang kesulitan menelan tablet mungkin memerlukan alternatif sediaan lain. Namun, tablet tidak boleh langsung dihancurkan atau dibelah tanpa memastikan bahwa bentuk obat tersebut memang boleh diperlakukan demikian.
Untuk obat tetes, salep, atau semprot, teknik penggunaan juga perlu diperhatikan agar obat dapat digunakan dengan benar.
Apoteker memiliki peran penting dalam membantu masyarakat memilih dan menggunakan obat secara tepat. Jika masih ragu, jangan sungkan untuk bertanya mengenai kandungan, dosis, aturan pakai, efek samping, maupun kemungkinan interaksi obat.
Sebelum membeli, kamu juga bisa menyampaikan beberapa informasi berikut:
Keluhan yang sedang dialami.
Usia orang yang akan menggunakan obat.
Riwayat alergi atau penyakit tertentu.
Obat dan suplemen yang sedang dikonsumsi.
Apakah obat digunakan untuk anak, ibu hamil, atau ibu menyusui.
Jika keluhan mengarah pada kondisi yang membutuhkan pemeriksaan, apoteker dapat menyarankan untuk berkonsultasi dengan dokter.
Di Klinik Kei Medika Jambi, masyarakat dapat berkonsultasi mengenai keluhan kesehatan agar mendapatkan penilaian dan arahan penanganan sesuai kondisi masing-masing.
Membeli obat di apotek perlu dilakukan dengan teliti, bukan hanya berdasarkan merek atau harga. Memeriksa kandungan, dosis, tanggal kedaluwarsa, aturan pakai, peringatan, interaksi, dan bentuk obat dapat membantu mengurangi risiko kesalahan penggunaan.
Jika ada informasi yang belum dipahami, tanyakan kepada apoteker sebelum menggunakan obat. Langkah sederhana ini dapat membantu menjaga keamanan pengobatan dan kesehatan tubuh.
Reservasi
Klinik Kei
Medika
WhatsApp :
0811-7450-412
Instagram : @keimedika
Facebook : kei medika
TikTok : kei_medika
YouTube : Kei Medika Official
Website : www.keimedika.com
Silakan
hubungi untuk konsultasi kesehatan sesuai kebutuhan Anda.